1. Faktor subyektif
Faktor Subyektif yang sangat kuat, bahkan dikatakan sbagai faktor utama dan faktor penentu yang mendorong berdirinya Muhammadiyah adalah hasil pendalaman KHA. Dahlan terhadap Al Qur'an dalam menelaah, membahas dan meneliti dan mengkaji kandungan isinya. Sikap KHA. Dahlan seperti ini sesungguhnya dalam rangka melaksanakan firman Allah sebagaimana yang tersimpul dalam dalam surat An-Nisa ayat 82 dan surat MUhammad ayat 24 yaitu melakukan taddabur atau memperhatikan dan mencermati dengan penuh ketelitian terhadap apa yang tersirat dalam ayat. Sikap seperti ini pulalah yang dilakukan KHA. Dahlan ketika menatap surat Ali Imran ayat 104 :
"Dan hendaklah ada diantara kamu sekalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung ".
Memahami seruan diatas, KHA. Dahlan tergerak hatinya untuk membangan sebuah perkumpulan, organisasi atau persyarikatan yang teratur dan rapi yang tugasnya berkhidmad pada melaksanakan misi dakwah Islam amar Makruf Nahi Munkar di tengah masyarakat kita.
Faktor Subyektif yang sangat kuat, bahkan dikatakan sbagai faktor utama dan faktor penentu yang mendorong berdirinya Muhammadiyah adalah hasil pendalaman KHA. Dahlan terhadap Al Qur'an dalam menelaah, membahas dan meneliti dan mengkaji kandungan isinya. Sikap KHA. Dahlan seperti ini sesungguhnya dalam rangka melaksanakan firman Allah sebagaimana yang tersimpul dalam dalam surat An-Nisa ayat 82 dan surat MUhammad ayat 24 yaitu melakukan taddabur atau memperhatikan dan mencermati dengan penuh ketelitian terhadap apa yang tersirat dalam ayat. Sikap seperti ini pulalah yang dilakukan KHA. Dahlan ketika menatap surat Ali Imran ayat 104 :
"Dan hendaklah ada diantara kamu sekalian segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung ".
Memahami seruan diatas, KHA. Dahlan tergerak hatinya untuk membangan sebuah perkumpulan, organisasi atau persyarikatan yang teratur dan rapi yang tugasnya berkhidmad pada melaksanakan misi dakwah Islam amar Makruf Nahi Munkar di tengah masyarakat kita.
2. Faktor Obyektif
Ada beberapa sebab yang bersifat objektif yang melatarbelakangi berdirinya Muhammadiyah, yang sebagian dapat dikelompokkan dalam faktor internal, yaitu faktor-faktor penyebab yang muncul di tengah-tengah kehidupan masyarakat Islam Indonesia, dan sebagiannya dapat dimasukkan ke dalam faktor eksternal, yaitu faktor-faktor penyebab yang ada di luar tubuh masyarakat Islam Indonesia.
Faktor obyektif yang bersifat internal
a. Ketidakmurnian amalan Islam akibat tidak dijadikannya Al-Quran dan as-Sunnah sebagai satu-satunya rujukan oleh sebagian besar umat Islam Indonesia
b. Lembaga pendidikan yang dimiliki umat Islam belum mampu menyiapkan generasi yang siap mengemban misi selaku ”Khalifah Allah di atas bumi”
Faktor obyektif yang bersifat eksternal
a. Semakin meningkatnya Gerakan Kristenisasi di tengah-tengah masyarakat Indonesia
b. Penetrasi Bangsa-bangsa Eropa, terutama Bangsa Belanda ke Indonesia
c. Pengaruh dari Gerakan Pembaharuan dalam Dunia Islam.
Riwayat Hidup K.H. Ahmad Dahlan
Ahmad Dahlan lahir di Kauman
Yogyakarta pada tahun 1868 dan meninggal pada tanggal 1923 M. Sewaktu kecil ia
diberi nama Muhammad Darwis. Ia berasal dari keluarga yang terkenal ‘alim dalam
ilmu agama. Ayahnya bernama K.H. Abu Bakar, seorang imam dan khatib masjid
besar Kraton Yogyakarta. Sementara ibunya bernama Siti Aminah putri K.H.
Ibrahim yang pernah menjabat sebagai penghulu di Kraton Yogyakarta.
Sejak
kecil Ahmad Dahlan dididik oleh ayahnya K.H. Abu Bakar seorang imam dan khatib
masjid besar Kraton Yogyakarta. Menurut Ramayulis dan Samsul Nizar pendidikan
dasarnya dimulai dengan belajar membaca dan menulis, mengaji Al-Qur an dan
kitab-kitab agama. Kemudian, beliau juga belajar dengan K.H. Muhammad Saleh
(ilmu Fiqh), K.H. Muhsin (ilmu Nahwu), KH. R. Dahlan (ilmu falak), K.H. Mahfuz
dan Syekh Khayyat Sattokh (ilmu hadis), Syekh Amin dan Sayyid Bakri (qiraat
al-Qur an) serta beberapa guru lainnya.
Selanjutnya
Ramayulis dan Samsul Nizar mengungkapkan, setelah beberapa tahun belajar dengan
gurunya beliau berangkat ke tanah suci pada tahun 1890 dan bermukim di sana
selama setahun. Merasa tidak puas dengan kunjungannya itu, pada tahun 1903 ia
berangkat kembali dan menetap di sana selama dua tahun. Selama berada di Mekkah
ini ia banyak bertemu dan bermuzakarah dengan sejumlah ulama Indonesia yang
bermukim disana, di antaranya Syekh Muhammad Khatib Al-Minangakabawi, Kiyai
Nawawi al-Banteni, Kiyai Mas Abdullah dan Kiyai Fakih Kembang. Pada saat itu
pula ia mulai berkenalan dengan ide-ide pembaharuan yang dilakukan melalui
penganalisaan kitab-kitab yang dikarang oleh refomer Islam seperti Ibn
Taimiyah, Ibn Qoyyim al-Jauziyah, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan lain
sebagainya. Melalui penganalisaan kitab-kitab yang dikarang oleh ulama reformer
tersebut telah membuka wawasan Dahlan tentang universalitas Islam. Ide-ide
reinterpretasi Islam dengan gagasan kembali kepada Al-Qur an dan Sunnah.
Ide
pembaharuan yang berhembus di Timur Tengah sangat menggelitik hatinya, apalagi
bila melihat kondisi umat Islam di Indonesia yang sngat stagnan. Untuk itu,
atas saran beberapa orang murid dan anggota Budi Utomo, maka Dahlan merasa
perlu merealisasikan ide-ide pembaharuannya. Untuk itu, pada tanggal 18
November 1912 beliau mendirikan organisasi Muhammadiyah di Yogyakarta. Di
samping Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan juga mendirikan organisasi wanita yaitu
’Aisyiyah pada tahun 1917. Organisasi ini merupakan wadah untuk kegiatan
perempuan dalam memahami, menghayati dan mengamalkan ajaran Islam secara murni
dan konsekwen. Berdirinya organisasi ini diawali dengan sejumlah pengajaran
yang dilakukan oleh Ahmad Dahlan mengenai perintah agama. Kursus tersebut
diadakan dalam perkumpulan ”Sopo Tresno” pada tahun 1914. Perkumpulan inilah
nanti yang berganti nama dengan ’Aisyiyah.
Secara
garis besar ada dua faktor yang mempengaruhi kelahiran Muhammadiyah, faktor
subjektif yaitu ingin melaksanakan hasil pemahaman K.H.Ahmad Dahlan terhadap
frrman Allah surat An-Nisa’ ayat 82 dan surat Muhammad ayat 24 serta surat Ali
Imran ayat 104. Faktor objektif yang bersifat internal dan eksternal. Faktor
objektif internal yaitu kondisi kehidupan masyarakat Indonesia antara lain;
ketidakmurnian pengamalan Islam akibat tidak dijadikan Al-Qur an dan as-Sunnah
sebagai satu-satunya rujukan oleh sebagian besar umat Islam Indonesia.
Kemudian, lembaga pendidikan yang dimiliki umat Islam belum mampu menyiapkan
generasi yang siap mengemban misi selaku Khalifah Allah di atas bumi. . Karena
itu, Muhammadiyah menitik beratkan gerakannya kepada sosial keagamaan dan
pendidikan.
Adapun
faktor objektif yang bersifat eksternal antara lain, semakin meningkatnya
Gerakan Kristenisasi di tengah-tengah masyarakat Indonesia, dan penetrasi
bangsa-bangsa Eropah, terutama bangsa Belanda ke Indonesia.
Di
samping itu, politik kolonialis Belanda mempunyai kepentingan terhadap
penyebaran agama Kristen di Indonesia. Dengan program ini akan didapat nilai
ganda yaitu di samping bernilai keagamaan dalam arti telah dapat menyelamatkan
domba-domba yang hilang, juga bernilai politis, karena betapa eratnya hubungan
agama (Kristen) dengan pemerintahan (Hindia Belanda) setelah penduduk bumi
putra masuk Kristen akan menjadi warga-warga yang loyal lahir dan batin bagi
pemerintah.
K.H.
Sahlan Rosidi secara rinci menyebutkan faktor-faktor yang mendorong K.H.Ahmad
Dahlan mendirikan organisasi Muhammadiyah, ialah: taklid yang begitu membudaya
dalam masyarakat Islam, khurafat dan syirik telah bercampur dengan akidah,
sehingga kemurnian akidah sudah tidak tampak lagi, bid’ah yang terdapat pada
pengamalan ibadah, kejumudan berfikir dan kebodohan umat, sistem pendidikan
yang sudah tidak relevan, timbulnya kelas elit intelek yang bersikap sinis
terhadap Islam dan orang Islam, rasa rendah diri di kalangan umat Islam, tidak
ada program perjuangan umat Islam yang teratur dan terencana khususnya dalam
pelaksanaan dakwah Islam, tidak ada persatuan umat Islam, kemiskinan umat bila
dibiarkan akan membahayakan karena mudah dirongrong oleh golongan kafir yang kuat
ekonominya, politik kolonialisme Belanda yang menekan dan menghambat hidup dan
kehidupan umat Islam di Indonesia, politik kolonialisme Belanda menunjang
kristenisasi di Indonesia. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, dan dorongan
orang-orang Budi Utomo dan Syekh Ahmad Syurkati K.H.Ahmad Dahlan dengan dibantu
oleh murid-muridnya, mendirikan organisasi yang diberi nama Muhammadiyah.
Menurut catatan Alfian, ada sembilan orang tokoh pendiri Muhammadiyah yaitu;
K.H. Ahmad Dahlan, H. Abdullah Siradj, Raden Ketib Cendana Haji Ahmad, Haji
Abdurrahman, R. H. Sarkawi, H. Muhammad, R. H. Djaelani, H. Anis, dan H.
Muhammad Fakih.
Organisasi
Muhammadiyah sampai tahun 1917 belum membuat pembagian kerja yang jelas. Hal
ini disebabkan wilayah kerjanya hanya Yogyakarta saja. Dalam kurun ini K.H.
Ahmad Dahlan sendiri aktif berdakwah, mengajar di sekolah Muhammadiyah dan
memberikan bimbingan kepada masyarakat seperti shalat dan bantuan kepada fakir
miskin
Kemudian,
pada tahun-tahun berikut, Muhammadiyah mengembangkan sayap operasi, bahkan pada
tahun 1921 telah meliputi seluruh Indonesia, Cabang utama dan pertama yang
berdiri di luar pulau Jawa adalah Minangkabau sekitar tahun 1923, Bengkulu,
Banjarmasin dan Amuntai sekitar tahun 1927 dan Aceh bersamaan dengan Makasar
sekitar tahun 1929.
Dalam
melaksanakan roda organisasi K.H. Ahmad Dahlan tidak bekerja sendirian, ia
dibantu oleh kawan-kawannya dari Kauman, seperti H. Sijak, H. Fakhruddin, H.
Tamim, H. Syarkawi, dan H. Abdul Gani. Sedangkan anggota Budi Utomo yang keras
mendukung segera mendirikan sekolah agama yang bersifat moderen adalah Mas
Rasyidi dan R. Sosrosugondo. Kemudian, setelah organisasi Muhammadiyah
didirikan dan melaksanakan amal usahanya di bidang pendidikan, dan sosial
sampai tahun meninggalnya K.H. Ahmad Dahlan yaitu tanggal 23 Februari 1923.
Sejarah
Muhammadiyah
Muhammadiyah didirikan di Kampung
Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh
seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan K.H.AAhmad Dahlan
.
Beliau
adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan sebagai
pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan jumud, beku
dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau tergerak hatinya
untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang sebenarnya berdasarkan
Qur`an dan Hadist. Oleh karena itu beliau memberikan pengertian keagamaan
dirumahnya ditengah kesibukannya sebagai Khatib dan para pedagang.
Mula-mula
ajaran ini ditolak, namun berkat ketekunan dan kesabarannya, akhirnya mendapat
sambutan dari keluarga dan teman dekatnya. Profesinya sebagai pedagang sangat
mendukung ajakan beliau, sehingga dalam waktu singkat ajakannya menyebar ke
luar kampung Kauman bahkan sampai ke luar daerah dan ke luar pulau Jawa. Untuk
mengorganisir kegiatan tersebut maka didirikan Persyarikatan Muhammadiyah. Dan
kini Muhammadiyah telah ada diseluruh pelosok tanah air.
Disamping
memberikan pelajaran/pengetahuannya kepada laki-laki, beliau juga memberi
pelajaran kepada kaum Ibu muda dalam forum pengajian yang disebut
"Sidratul Muntaha". Pada siang hari pelajaran untuk anak-anak
laki-laki dan perempuan. Pada malam hari untuk anak-anak yang telah dewasa.
KH
A Dahlan memimpin Muhammadiyah dari tahun 1912 hingga tahun 1922 dimana saat
itu masih menggunakan sistem permusyawaratan rapat tahunan. Pada rapat tahun ke
11, Pemimpin Muhammadiyah dipegang oleh KH Ibrahim yang kemudian memegang
Muhammadiyah hingga tahun 1934.Rapat Tahunan itu sendiri kemudian berubah
menjadi Konggres Tahunan pada tahun 1926 yang di kemudian hari berubah menjadi
Muktamar tiga tahunan dan seperti saat ini Menjadi Muktamar 5 tahunan.



0 komentar:
Posting Komentar